Breaking News

Efisiensi Anggaran, Kades Kire Prioritaskan Pembangunan: Honor Imam, Guru Ngaji, dan Pendeta Terpaksa Dihentikan

IMG 20261102 142810
Bagikan
Lihat Tersimpan

TOPOYO – Di tengah keterbatasan anggaran desa, Kepala Desa Kire, Irham, M.S., memilih jalan yang tidak mudah: memprioritaskan pembangunan yang paling mendesak, meski harus menghentikan honor bagi imam, guru pengaji, dan pendeta di desanya.

Keputusan itu diungkapkannya di kediamannya, Senin (2/11/2026). Dengan nada jujur, Irham menyebut efisiensi anggaran dana desa saat ini memaksanya memilah, mana yang harus didahulukan dan mana yang terpaksa ditunda.

“Dengan adanya efisiensi anggaran dana saat ini, dengan terpaksa kami tidak lagi bisa memberi gaji para imam, guru pengaji, dan pendeta. Dana yang ada harus diprioritaskan untuk pembangunan yang terpenting bagi masyarakat,” ungkap Irham.

Bagi desa dengan sekitar 800 kepala keluarga itu, keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Imam, guru pengaji, dan pendeta selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan warga. Namun Irham menegaskan, pembangunan desa tidak boleh berhenti hanya karena anggaran menyusut.

Dan hasilnya, kata dia, mulai terlihat. “Alhamdulillah, pembangunan di desa kami sangat maju,” ujarnya.

Di balik kepemimpinannya di Desa Kire, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Irham juga dikenal aktif di luar pemerintahan desa. Ia merupakan anggota Perbakin dan ORARI, dua organisasi yang menuntut kedisiplinan, ketepatan, dan tanggung jawab, nilai yang tampaknya ia bawa pula dalam menakhodai desanya.

Kini, di tengah efisiensi yang menekan banyak desa, Kire memilih tetap bergerak. Pembangunan diprioritaskan, meski ada pengorbanan yang harus dijelaskan kepada masyarakat dengan terbuka.

Penulis : M.jasman (Pimpinan Redaksi)