SIGI – Sejumlah gagasan strategis untuk mendorong kemajuan Kabupaten Sigi mengemuka dalam pertemuan diskusi sambung rasa bersama Dr. Syaripuddin Suding, S.H., M.H., Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Sabtu malam (31/10/2026).
Pertemuan yang berlangsung di salah satu warung kopi (warkop) di Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, itu menjadi ruang dialog untuk membicarakan berbagai persoalan daerah, khususnya penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan perdagangan hasil bumi, serta peningkatan akses pendidikan.
Diskusi tersebut dihadiri sejumlah akademisi senior, yakni Dr. Rizali Djaelangkara, Dr. Marzuki, dan Dr. Dewi. Turut hadir Dr. Awaludin, S.Sos., MPA, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dari Daerah Pemilihan Donggala–Sigi, serta tokoh masyarakat Sigi Biromaru, Nur Zain.
Salah satu aspirasi yang menjadi perhatian disampaikan Dr. Marzuki kepada Dr. Syaripuddin Suding. Ia mengusulkan agar pembangunan pasar berskala internasional di Kabupaten Sigi dapat diperjuangkan sebagai langkah strategis untuk memperkuat sektor perdagangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil bumi masyarakat.
Menurut Dr. Marzuki, Kabupaten Sigi memiliki potensi komoditas pertanian dan hasil bumi yang cukup besar. Namun, diperlukan fasilitas perdagangan yang memadai agar hasil produksi masyarakat tidak hanya dipasarkan ke luar daerah, melainkan dapat dikumpulkan, diperdagangkan, dan didistribusikan melalui pusat perdagangan yang berada di Kabupaten Sigi.
Keberadaan pasar tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai perdagangan yang lebih kuat, memberikan kemudahan bagi petani dan pedagang dalam memasarkan komoditas, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Apabila pusat perdagangan berskala internasional dapat diwujudkan, perputaran uang dari aktivitas jual beli hasil bumi akan lebih banyak berlangsung di Kabupaten Sigi, sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan petani sebagai produsen, tetapi juga pedagang, pelaku usaha, tenaga kerja, serta masyarakat yang terlibat dalam aktivitas perdagangan.
Selain sektor ekonomi, persoalan pendidikan turut menjadi pembahasan. Dr. Awaludin menyampaikan pentingnya memperluas informasi kepada masyarakat mengenai berbagai program bantuan pendidikan yang disediakan pemerintah, termasuk program Berani Cerdas dari pemerintah daerah.
Ia menjelaskan, selama melaksanakan reses di daerah pemilihannya, sosialisasi mengenai kesempatan melanjutkan pendidikan terus dilakukan, terutama kepada keluarga yang memiliki anak usia sekolah dan ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Menurutnya, pemerintah pusat telah menyediakan dukungan pembiayaan pendidikan melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sementara pemerintah daerah juga memiliki berbagai program bantuan dan beasiswa yang dapat dimanfaatkan masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, ia mengharapkan para orang tua dan generasi muda lebih aktif mencari informasi mengenai peluang bantuan pendidikan tersebut.
Sosialisasi secara berkelanjutan dinilai penting agar masyarakat memahami mekanisme, persyaratan, serta jalur yang harus ditempuh untuk memperoleh bantuan pendidikan. Dengan terbukanya akses informasi dan dukungan pembiayaan, kesempatan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan diharapkan semakin luas tanpa harus sepenuhnya terbebani persoalan ekonomi keluarga.
Selain itu, isu ketersediaan energi dan pasokan bahan bakar minyak (BBM) turut disinggung, mengingat sektor energi memiliki keterkaitan erat dengan kelancaran aktivitas masyarakat dan pergerakan ekonomi di berbagai daerah.
Pertemuan di Desa Mpanau tersebut menjadi wadah komunikasi antara wakil rakyat, akademisi, tokoh masyarakat, dan insan pers dalam membicarakan berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Berbagai masukan yang disampaikan diharapkan dapat menjadi bahan perhatian dan tindak lanjut melalui peran serta kewenangan masing-masing pihak, sehingga aspirasi yang berkembang di daerah dapat tersampaikan dan menjadi bagian dari pembahasan dalam mendorong pembangunan Kabupaten Sigi ke depan.
Laporan : Ahmad Hidayat Dikri







