PASANGKAYU, HARIAN INDOPOS.COM – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite melanda Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Krisis yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini membuat warga menjerit.
Pantauan di lapangan, kekosongan tidak hanya terjadi di SPBU Bulucindolo, namun juga merembet hingga ke tingkat pengecer botolan di dalam Kota Pasangkayu. Jika pun ada yang menjual, harganya melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) kini tembus Rp20.000 per liter.
Kondisi ini sangat meresahkan masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani, pegawai kantoran, dan pelajar yang sangat bergantung pada BBM untuk mobilitas harian.
“Anak mau sekolah, kami mau ke kantor dan ke kebun semua butuh BBM. Sekarang cari di pengecer saja tidak ada,” keluh salah seorang warga, Senin (6/10/2026).
Keterbatasan pasokan dibenarkan pihak SPBU. Manajer SPBU Bulucindolo, Andi Ilham melalui Pengawas Lapangan, Anca mengungkapkan penyebabnya adalah minimnya jatah pasokan dari depot.
Menurutnya, pengiriman Pertalite pada hari Jumat dari Depot Pertamina Donggala, Sulawesi Tengah, hanya berjumlah 8 kiloliter (KL). Kemudian pada hari Sabtu, pasokan dari Depot Pare-Pare juga hanya 8 KL.
“Mohon disampaikan kepada mitra dan pengguna BBM Pertalite, khususnya para pengantri. Untuk pengiriman hari Jumat dari Depot Sulteng hanya 8 KL. Sementara Sabtu dari Depot Parepare juga 8 KL,” ujarnya..
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat ketersediaan di SPBU tidak mampu memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat. Bahkan pada hari Minggu, jadwal pengiriman dari depot terkadang ada dan terkadang tidak ada sama sekali.
“Bagaimana masyarakat bisa terpenuhi sementara kuota yang dikirim tidak cukup. Seandainya pengiriman dari Depot Sulteng tidak terkendala, mungkin saja tidak terjadi kelangkaan seperti ini,” tegas Anca.
Akibat pasokan seret, antrean panjang tak terhindarkan. Warga rela mengantre berjam-jam dengan panjang antrean diperkirakan lebih dari 500 meter, didominasi kendaraan roda dua dan roda empat.
Pihak SPBU berharap distribusi dari depot dapat kembali lancar dan kuota ditambah sesuai kebutuhan riil masyarakat Pasangkayu.
Sementara itu, warga berharap Pemerintah Daerah dan Pertamina segera turun tangan. Jika tidak, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pertanian di Pasangkayu terancam lumpuh***







